Kulon Progo, disinfecting2u.com – Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, setelah 28 tahun reformasi, Indonesia masih tertinggal dalam hal swasembada pangan. Oleh karena itu, menurutnya kemandirian pangan sangat penting.
“Hampir 28 tahun reformasi, kita lupa soal pangan. Pak Habibi sukses di dua tahun pertama reformasi, tapi kemudian dia menolak laporannya dan tidak melanjutkan.
Ibu Megawati yang masih bersama Gus Durla masih gaduh soal penguatan demokrasi. Kalau zaman Pak SBY agak salah, tapi 10 tahun kemudian masih proses demokrasi. Bahkan pada masa Pak SBY, pertunjukan kerbau diperbolehkan. “Seru banget kita berbangsa,” kata SD Muhammadiyah 1 Wonopeti, Kabupaten Kulon Progo, Senin (16/12/2024), saat membahas uji coba gratis program Makan Bergizi.
Sedangkan selama 10 tahun Presiden Joko Widodo berkuasa, pemerintahannya fokus pada pembangunan infrastruktur. Oleh karena itu, swasembada pangan atau kedaulatan pangan agak terabaikan di Indonesia. Berbeda dengan zaman Soeharto.
“Warisan Pak Harto begitu kuat sehingga kita masih bisa bertahan dari segi irigasi, sawah, pupuk, Bulog, tapi sudah mulai menurun. Alhamdulillah, Presiden Prabowo di mana-mana sudah menyatakan bahwa kita harus swasembada pangan. 2027 hingga 2027,” ujarnya.
Indonesia bisa mencapai kemandirian pangan, tidak bergantung pada negara lain. Bahkan, swasembada pangan bisa menjangkau seluruh provinsi dan kabupaten/kota.
Swasembada pangan akan mempengaruhi kepatuhan gizi dalam program pangan bergizi gratis yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Zulhas mengatakan, “Kita ingin anak-anak sehat, cerdas, dan kuat jasmani. Makanya kita ingin 100 tahun mandiri, kita ingin sejajar dengan negara maju. Makanya pangan penting bagi anak-anak.”
Ia mencatat, pemerintah telah mengalokasikan Rp71 miliar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (NPB) untuk program makan bergizi gratis yang rencananya akan dimulai pada tahun 2025.
“Untuk anggaran (makanan bergizi gratis) tahun depan Rp 10.000, kita antisipasi 71 miliar, tentu tidak sebanyak yang kita harapkan. Kalau semua diperkirakan empat ratus miliar, tapi APBN kita hanya bisa mencapai Rp 71 miliar, ”ujarnya oleh Zülhas
Oleh karena itu, anggaran sebesar Rp71 miliar ini harus dioptimalkan agar anggaran yang terbatas tersebut dapat menjangkau sebanyak-banyaknya anak penerima program makanan bergizi gratis. (scp/es)